parallax background

[REPOST] Seksinya Kesejahteraan Kerja di Startup Indonesia

books-thumb
My “A Year Books” 2015
September 18, 2016
instagram-thumb
2015 Best Nine Pictures on My Instagram
September 18, 2016
 

[Tulisan ini merupakan hasil repost dari sumber asli yang dimuat Tech in Asia Indonesia edisi 29 Juli 2015. Anda bisa membacanya di sini]

Bahagianya melihat perkembangan startup Indonesia yang perlahan meningkatkan level kesejahteraan tim-nya! Seperti Touchten sebagai salah satu studio game terkemuka yang kini sudah bisa menyediakan menu “Healthy Breakfast and Dinner” (Sarapan dan Makan Malam dengan menu sehat) untuk tim-nya.

I know the price well. Standar Bandung saja healthy food itu per porsi minimal Rp 45.000,-! Healthy food, apalagi yang bahannya organik, harganya memang “sesuatu” padahal dengan porsi yang imut… Hehehehehe… (istilah saya: “porsi-sekali-suap“).

Pertama kali saya kenal CEO-nya yaitu Mas Anton Soeharyo pada bulan Oktober 2013 saat saya jadi MC pada meetup Startup Lokal di Jakarta Convention Center (JCC) dan dia jadi salah satu Speaker-nya.

Masih ingat benar saat saya jemput dia di lobby JCC, ngobrol sekilas tentang industri game di Indonesia, hingga dinner bersama lengkap dengan seluruh tim Startup Lokal setelah kegiatan itu di Kopitiam, FX mall. Mendengar penuturan pengantin baru yang pernikahannya masih satu tahun ini, intuisi saya berbisik bahwa Touchten akan menjadi startup dengan ranah game yang leading di Indonesia selain Agate Studio, misalnya.

Kisah-kisah “seksinya” kesejahteraan kerja di startup Indonesia belum selesai sampai di sana. Beberapa startup ada yang royal menggelontorkan salary menggiurkan. Pernah seorang kenalan curhat, dia “dibajak” oleh sebuah startup dengan angka belasan juta untuk posisi level Manajer padahal bisnis mereka belum genap dua tahun!

Dengan posisi yang sama, angka belasan itu menjadi tidak seberapa jika mungkin yang merekrut adalah startup sekelas Kaskus, Traveloka, OLX, dan sederet startup ternama lainnya. Angka puluhan bisa jadi meliuk genit menggoda dompet….

Belum lagi aneka allowance yang membuat seseorang betah kerja di sebuah startup sebagai bisnis rintisan digital (catat, masih merintis, bukan perusahaan besar seperti Google, Microsoft, Intel, dan sederet perusahaan teknologi lainnya yang dulunya juga berasal dari startup digital!).

Sebutlah HijUp (e-commerce fashion muslim) salah satu startup yang terang-terang-an menawarkan allowance jalan-jalan ke luar negeri!

Ini belum termasuk kultur kerja yang memungkinkan kita kerja secara remote (kerja dari rumah atau cafe), suasana kerja yang “nggak-kayak-kerja” (ya, beberapa startup ada yang kantornya di apartemen atau di co-working space sebagai kawasan publik!), kantor yang tak ubahnya “taman kanak-kanak” (baca: full entertainment) bahkan mewajibkan tim-nya main game tiap hari (!), dan didominasi oleh tim yang umumnya berusia 20-30-an tahun!

Tetapi, di balik kesejahteraan sebuah startup, terdapat cucuran keringat dan tangisan air mata para Founder dan/atau CEO-nya yang tidak main-main demi memajukan bisnisnya!

Merekalah para “sleepless elite” yang pantang tidur sebelum target harian tercapai. Sebagai bocoran, Willis Wee, Founder Tech in Asia, rata-rata tidurnya 4 jam sehari! Natali Ardianto (Founder dan CTO Tiket) sudah terbiasa tidur jam 03.00 pagi dan 05.30 harus sudah bangun lagi untuk mengantar sang buah hati ke sekolah! Diajeng Lestari (CEO HijUp) merutinkan bangun di sepertiga malam terakhir (sekitar jam 03.00 pagi) untuk tahajjud!

The business lesson is: “WORK HARD NEVER BETRAY THE RESULT!”

Jadi, siapa bilang kerja di suatu bisnis rintisan digital atau yang akrab disebut startup itu menyengsarakan?

Herry Fahrur Rizal
Herry Fahrur Rizal
A Startup Enthusiast who has 5 years experience in Indonesia startup ecosystem | Follow me on Facebook: Herry Fahrur Rizal