parallax background
tatler-thumb
(Bukan) Sosialita Startup (Part 1 of 2)
October 6, 2016
desk-thumb
[Event Backstage] Startup Banjarmasin Community Seminar and Workshop
October 9, 2016
 

Namun, saya mengurungkan niat ide liar itu ketika dihadapkan dengan perenungan:

Berapa orang sih, Founder dan/atau CEO startup Indonesia yang memiliki gaya hidup jetset...?

Apakah relevan jika benar iya saya mendirikan media tersebut, nantinya akan berbanding lurus dengan semangat dunia startup yang sedang dalam tahap merintis bisnis...?

Bukankah pemberitaan sisi success story dari Founder dan/atau CEO startup Indonesia juga rentan mencederai para Founder lain yang masih bleeding membangun startup-nya...?

Jiwa saya membumi. Turun dari kahyangan. Teringat dengan wanti-wanti beberapa Senior startup tentang pemberitaan success story dari Founder dan/atau CEO startup Indonesia, yang kadung ter-expose beberapa media sehingga menjadi mispersepsi di kalangan publik yang masih awam.

Betapa sejatinya, pemberitaan failed story juga perlu memiliki ruang untuk diungkap di media. Failed story dari Founder dan/atau CEO startup perlu diberikan panggung untuk berbagi.

failure-thumb

Failure is still taboo in our culture

Bagaimanapun, culture startup yang akrab dengan konsep bootstrapping... lean... multitasking... sleepless... weekendless... perlu disampaikan kepada publik secara proporsional agar persepsi tentang kehidupan Founder dan/atau CEO startup di Indonesia lebih berimbang.

Satu hal: bahwa mendirikan startup sebagaimana bisnis pada umumnya adalah proses jatuh bangun yang menjadi makanan keseharian Founder dan/atau CEO....

Baca Juga: (Bukan) Sosialita Startup (Part 1 of 2)

Terngiang pesan dari Rama Mamuaya (CEO Daily Social) saat Mei 2012, empat tahun silam pertama kali saya bersua dengannya karena baru mendirikan startup yang pertama, di sebuah kedai kopi di Senayan City Mall.

Ujarnya: “Her... karena CEO itu: Chief EVERYTHING Officer!” Setelah itu kami tergelak.

irzan-rama-me-thumb

Irzan Raditya, Rama Mamuaya, & I at Echelon 2016

Ya, tidak banyak yang tahu bahwa menjadi Founder dan/atau CEO startup Indonesia sangat membanting tulang karena pada umumnya (apalagi yang startup-nya masih dalam tahap seed maupun early!) mereka harus melakukan segalanya (baca: everything) karena masih dalam tahap merintis!

Ditilik secara sisi bisnis juga bahwa majalah life style untuk kelas Sosialita ini sebagian masih terbilang “hidup-segan-mati-pun-tak-mau”. Hehehehehe. Tanpa menyebut brand, saya pernah duduk satu meja dalam suatu agenda makan malam di suatu mega mall di Jakarta bersama mantan Managing & Fashion Editor sebuah majalah Sosialita ternama. Dengan blak-blak-an pria asal Bandung ini menguak bahwa selama empat tahun menempati posisi bergengsi itu, dia mengamati hanya kerugian yang diterima tiap edisinya!

Founder dan/atau CEO startup Indonesia bukan “Sosialita Startup” yang identik dengan kehidupan mewah, glamour, dan menghabis-habiskan uang. Kendati bagi beberapa mereka yang startup-nya sudah masuk tahap advance dan exit, sah-sah saja mencicipi “naik kelas” sosial yang sudah sepantasnya.

Dan bukan sebuah kekeliruan, sekiranya profil mereka sesekali diliput media life style yang bergengsi di negeri ini. Toh, mereka juga tidak menyengajakan diri minta diliput. Justru pencapaian startup mereka lah, yang memang membuat profil mereka layak menjadi pemberitaan untuk menjadi inspirasi tersendiri.

Lagipula, muncul sesekali di suatu majalah Sosialita juga tidak secara otomatis mengukuhkan Founder dan/atau CEO startup yang sebutkan tadi sontak tergolong dalam kalangan Sosialita, bukan?

Apalagi perlu diketahui bahwa berdasarkan informasi valid yang saya terima dari salah satu pengelola majalah sosialita bahwa untuk sengaja ingin diliput di majalah itu, narasumber perlu merogoh kocek puluhan hingga ratusan juta! Sebutlah untuk menjadi headline di cover story tarifnya sekitar Rp 250 hingga Rp 300 juta! Hm… tampaknya kemungkinan kecil jika para Founder dan/atau CEO startup Indonesia yang profilnya dimuat majalah sosialita itu, iseng buang-buang duit hanya untuk media exposure!

Nominal Rp 250 juta itu sendiri mengingatkan saya pada angka seed funding yang biasa diperoleh dari para peserta Indigo Incubator-nya Telkom. Itu artinya satu kali “nangkring” sebagai cover di majalah Sosialita ibukota itu sama dengan membiayai satu startup yang masih dalam tahap seed… :D

Masih terngiang di kepala saya obrolan dengan Managing & Fashion Editor asal kota Kembang tadi bahwa ada seorang Sosialita yang berani bayar sekian ratus juta untuk diliput sebagai headline di cover story di majalahnya dan setelah itu dia pula yang memborong majalah dengan cover dirinya tersebut sebanyak 500 eksemplar untuk dibagikan kepada kolega bisnisnya!

Saya percaya bahwa kegilaan ini belum melanda mentalitas Founder dan/atau CEO startup di Indonesia saat ini hanya demi satu kata: eksistensi!

Tulisan saya ini lebih mengajak kita semua untuk saling memahami bahwa kehidupan Founder dan/atau CEO startup Indonesia itu beragam.

Mari apresiasi mereka yang relatif sudah melangit dan mari berempati kepada mereka yang masih membumi. Iri dan dengki terhadap mereka yang sudah “jadi” hanyalah cerminan kekerdilan hati. Sebagaimana memandang sebelah mata mereka yang masih menata, hanyalah kepongahan tanpa makna.

Garis kehidupan tiap Founder dan/atau CEO startup itu berbeda. Lagipula, bukankah hidup itu sendiri tak ubahnya ibarat roda? Pun berlaku untuk kehidupan Founder dan/atau CEO startup di Indonesia....

SEKIAN

Image Source: Unsplash and Personal Collection

Herry Fahrur Rizal
Herry Fahrur Rizal
A Startup Enthusiast who has 5 years experience in Indonesia startup ecosystem | Follow me on Facebook: Herry Fahrur Rizal