parallax background

PAKIE: Agar Resolusi tak Teronggok tanpa Makna…

book-thumb
Monthly Book Review: January 2017 Period
February 6, 2017
divorce-thumb
[Random Thought] Forgive Your Imperfection
February 22, 2017
 

Saya baru mengenal namanya saat acara puncak “Pesta Wirausaha 2015” di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada Maret 2015 silam. Saat itu tidak sengaja saya bersua dengan seorang teman lama yang jauh-jauh dari Depok bela-belain mencari bukunya.

Kalau tidak salah ingat, judul bukunya yang bersampul kuning itu ialah: “30 Hari Jago Jualan: Rahasia Jualan Laris tanpa Mengemis-ngemis”. Kilat mata saya menelusuri nama pengarangnya. Tertera: Dewa Eka Prayoga.

Akhirnya, saya bisa berteman dengan Kang Dewa (saya memanggilnya begitu) di Facebook. Apalagi setelah tahu dia sempat kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, which is itu juga kampus yang sama dimana saya sempat menimba ilmu.

Dan kian menarik, dia juga mutual friends dari Mentor saya, Denny Santoso. Tetiba saya merasa sudah memiliki kedekatan emosi dengan pria yang masih berusia 25 tahun ini!

Entah bagaimana, hampir sepanjang 2015 hingga kini, tulisan-tulisan serta update statusnya mencuri perhatian saya. Pengalaman dia berbisnis lengkap dengan kisah jatuh-bangunnya mencerahkan hati saya.

Akhir tahun 2015 silam, dia menulis “Cara Benar Membuat Resolusi Tahunan”. Lagi, tulisannya sangat powerfull dan berikut intisarinya yang telah saya modifikasi sedemikian rupa.... :)

Baca Juga: [Random Thought] An Irresistible Failure

writing-thumb

Resolusi tanpa Basa-Basi!

Ini pertama kali dalam sejarah pembuatan resolusi sekitar sejak tahun 2002, hati saya sangat tergerak untuk mewujudkannya. Kang Dewa secara penuh perasaan, menuangkan pengalamannya yang menggugah saya untuk mengikuti langkah demi langkah caranya dalam menyusun resolusi.

Begini....

Umumnya rumus menyusun resolusi itu menggunakan formula SMART:
1. Specific
2. Measurable
3. Achievable (kalau versi Yasa Singgih, Founder Men’s Republic, yaitu diartikan “Antusiable”)
4. Realistic (sebagian ada yang mengartikan dengan “Result Oriented”)
5. Timely (ada yang menyebutnya “Time Based” atau “Time Limit”)

Namun, Kang Dewa menambah rumus lainnya agar lebih berdaya yang saya pribadi menyingkatnya dengan PAKIE:
1. Positif
2. Visual, Auditory, dan Kinestetik (VAK)
3. Kontrol
4. Intensi Positif
5. Ekologis

Mengapa rumus PAKIE ini bagi saya sangat powerfull?

Baca Juga: [REPOST] Law Of Attraction, Denny Santoso, and I

writing-2-thumb

Mengamini apa yang dijelaskan Kang Dewa pada tulisannya tersebut bahwa pada rumus SMART, kurang menggerakkan pikiran bawah sadar (sub-conscious mind) khususnya pada point “Achievable” dan “Realistic”. Padahal pikiran bawah sadar sangat berperan penting dalam menggerakan alam sadar sekitar 80 persen.

Point “Achievable” dan “Realistic” dalam formula SMART dianggap tidak memiliki batasan yang jelas, bahkan keduanya bisa diprogram oleh pikiran setiap orang (baca: kurang personalized).

Sementara untuk merancang resolusi yang mengkristal dan terinternalisasi secara utuh, mestinya membuat pikiran bawah sadar bisa mendeteksi keberadaan resolusi tersebut.

Peran pikiran bawah sadar juga membuat resolusi mudah dicapai, lebih melekat kuat, dan hebatnya bisa berjalan otomatis! Maka, ubahlah resolusi menjadi: OUTCOME (baca: hasil).

Agar resolusi yang kita canangkan harus diperlakukan oleh pikiran sebagai hasil yang riil dan dapat dicapai. Ya, formula PAKIE membantu mengubah resolusi menjadi hasil....

Berikut penjelasan PAKIE:

1. Positif
Hindari resolusi yang mengandung kata negasi, seperti: “Jangan” dan “Tidak”, karena pikiran bawah sadar tidak bisa memproses kata negasi.

2. Visual, Auditory, dan Kinestetik (VAK)
Resolusi yang disusun berdasarkan VAK akan mudah dicapai dan dimengerti oleh pikiran bawah sadar.

3. Kontrol
Resolusi yang ingin dicapai harus muncul dari diri sendiri. Tidak boleh digantungkan pada orang lain atau situasi tertentu. Pastikan bahwa sumberdaya demi pengwujudan resolusi harus ada di tangan si pembuat resolusi. Lantaran resolusi yang terlalu digantungkan pada faktor eksternal, tidak dapat dieksekusi oleh pikiran bawah sadar.

4. Intensi Positif
Agar resolusi jadi lestari, maka intensi positif (niat/maksud) harus tetap dapat dipenuhi saat kita mencapai outcome tersebut.

5. Ekologis
Resolusi ada baiknya mengandung efek positif pada lingkungan dan orang-orang sekitar.

Setelah saya praktekkan dengan mengubah resolusi menjadi outcome dengan formula PAKIE tadi yang diperkuat dengan menjawab 10 – 14 pertanyaan ala PAKIE (sila penjelasan detil bisa dibaca di sini), entah bagaimana saya merasa kalimat-kalimat yang saya susun lebih meresap dan menancap ke hati!

Pertanyaan-pertanyaan PAKIE tersebut difokuskan untuk mencapai resolusi yang kita inginkan. Saya menganggap bahwa proses mem-PAKIE-kan resolusi adalah untuk memperkuat “The Why” seperti yang memang juga disarankan oleh Anthony Robbins.

Mengapa?

Karena “The Why” di balik sebuah resolusi akan memperkuat alasan mengapa kita harus berjuang mati-matian untuk mencapainya! Lantaran pada umumnya kita membuat resolusi dengan mental “Terwujud-syukur-nggak-terwujud-ya-nggak-apa-apa”, bukan?

Dude, that is the difference between resolution and wish!

Kang Dewa memberikan sebuah ilustrasi, jika kita punya resolusi memiliki income Rp 500 juta per bulan dan saat ini masih Rp 100 juta per bulan, kita harus menyadari bahwa income Rp 100 juta per bulan itu: BERMASALAH!

Tapi, bukankah kita pada umumnya sering merasa sedang tidak bermasalah sehingga cenderung berleha-leha?

Formula PAKIE sejatinya untuk mencipta suasana agar diri kita dalam kondisi un-comfort zone.

PAKIE juga melipatgandakan energi agar bisa mencapai resolusi dengan membuat kondisi seolah-olah tengah “bermasalah besar”.

Karena rumus PAKIE membuat kita memiliki alasan kuat mengapa resolusi tersebut harus dicapai. Bahkan dengan PAKIE, bisa membuat kita ingin segera berbuat lebih baik lagi untuk mencapai resolusi yang sudah ditetapkan.

Baca Juga: Keajaiban Itu Bernama: “Law Of Attraction”!

goal-thumb

Bukan hanya PAKIE....

Namun, PAKIE bukan segala-galanya. Kita perlu merancang STRATEGI untuk mencapai resolusi tersebut. Dan pastikan strategi yang kita tentukan benar-benar mendekatkan pada resolusi yang diharapkan. Pastikan juga untuk memikirkan apa dan bagaimana strategi terbaik agar resolusi itu benar-benar tercapai secara harian.

Hal lainnya untuk mempercepat pengwujudan resolusi selain dengan PAKIE dan penentuan strategi, juga bisa dengan IMAJINASI serta VISUALISASI dalam bentuk mindmap atau gambar penuh warna. Selain untuk mudah mengingatnya, sub-conscious mind juga mudah mengaksesnya. Terakhir, tinggal: KOMITMEN!

Mengutip pernyataan Kang Dewa:

“NO EXCUSE: TANPA TAPI, TANPA NANTI, SUKA DUKA DIJALANI!”

Mari kita saksikan bersama, bagaimanakah perjalanan akhir resolusi 2017 yang kita semua susun di akhir Desember 2017 mendatang... :)

SEKIAN


Image Source: Pic Jumbo, Tookapic, Unsplash, and Pexels.

Herry Fahrur Rizal
Herry Fahrur Rizal
A Startup Enthusiast who has 5 years experience in Indonesia startup ecosystem | Follow me on Facebook: Herry Fahrur Rizal