parallax background

Memang Kenapa Kalau Beda Agama?*

jack-ma-thumb
Why Are You Still Poor at 35?*
July 20, 2017
colossus-thumb
Ikutilah Kompetisi Bisnis Global ColossusINNO2017!
July 23, 2017
 

Postingan ini terinspirasi setelah saya menonton video di bawah ini.

Silahkan tonton dulu, ya:


Teringat dengan ucapan seorang saudara yang mempertanyakan mengapa saya di Facebook kelihatannya sering berfoto... berinteraksi... saling berkomentar pada akun teman-teman saya yang non-muslim....

Saya balik bertanya:

"Memang kenapa kalau saya bergaul dengan mereka yang bukan beragama Islam...?"

Dia memang tidak menjawab.

Bagi saya, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi segenap masyarakat tanpa sekat merupakan salah satu isyarat bahwa kita hamba yang taat seperti yang tersurat dalam Al-Hujuraat ayat 13, yang berbunyi:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal….

Baca Juga: [REPOST] Aku Ingin Menjadi Tujuh Langkah Terakhirmu....

Belasan tahun dari sekolah tingkat dasar hingga sekolah tingkat menengah ke atas, saya memang pernah memasuki fase kehidupan dimana pertemanan saya homogen: satu agama, bahkan satu mazhab. Selebihnya, saya enggan berteman.

Mengapa demikian?

Ada semacam ketakutan bahwa berteman dengan beda keyakinan adalah sebuah ancaman....

Lantaran saya pikir saat itu mereka bisa membuat saya jadi berpindah akidah....

Ada semacam ketakutan bahwa berteman dengan beda keyakinan adalah kekeliruan....

Lantaran saya pikir saat itu mereka bisa memengaruhi kadar keimanan....

Hm... apakah se-menyeram-kan demikian berteman dengan beda keyakinan...?

Menjelang kuliah, selama dua tahun saya berkesempatan untuk mempelajari SPERMA a.k.a "Sejarah Perbandingan Agama".

Saat di bangku kuliah, saya mulai membuka diri untuk berteman dengan yang beda keyakinan. Selama itu pula saya cukup banyak berdialog mengenai perbedaan keyakinan dengan mereka, namun demi untuk mencari persamaan. Sehingga saya merasa pada titik kepribadian yang toleran terhadap keberagaman....

Setelah lulus kuliah, saya menyimpulkan bahwa keragaman dalam keber-agama-an memang sebuah keniscayaan dari Tuhan.

Lalu, mengapa masih ada sebagian kita yang mempermasalahkan...?


Ini tahun ke-9 selepas saya lulus dari bangku kuliah dan saya merasakan manfaat dari pertemanan yang berangkat dari perbedaan keyakinan.

Intinya:

Saya lebih dewasa menyikapi perbedaan dan lebih jernih mencerna isu-isu yang dihembuskan dimana akhir-akhir ini merenggangkan kebersamaan kita sebagai saudara sebangsa yang pekat dengan keragaman.

Lagipula, bukan perbedaan keyakinan dalam berteman yang menyebabkan seseorang berpindah keyakinan, melainkan, karena memang dia tidak punya iman yang mapan....

*P.S. Tulisan ini pernah saya posting di Facebook pada tanggal 31 Mei 2017.


Image Source: Personal Collection.

Herry Fahrur Rizal
Herry Fahrur Rizal
A Startup Enthusiast who has 5 years experience in Indonesia startup ecosystem | Follow me on Facebook: Herry Fahrur Rizal