parallax background
colossus-thumb
Ikutilah Kompetisi Bisnis Global ColossusINNO2017!
July 23, 2017
edtech-thumb
EdTech Asia Summit: Konferensi Tertinggi Startup EdTech di Asia yang Wajib Diiikuti!
July 25, 2017
 

Kami dipertemukan sebagai sesama Finalis Radio Announcer MQFM periode tahun 2005.

Setelah menyisihkan 93 orang yang melakukan audisi di pelataran halaman kampus UNPAD Dipati Ukur, Bandung; kami bertujuh akhirnya “dikarantina” untuk menempuh masa training selama 10 hari sebagai calon Penyiar baru Radio Manajemen Qolbu (MQ) FM.

deden-1-thumb

Saya berpose di samping (alm) Deden

Itulah kali pertama saya mengenal sosok almarhum: Deden “Edcoustic”….


Studio MQFM, Januari 2005

…dari Graha MQ jalan Geger Kalong Girang nomor 5 Bandung/ hidup indah dengan bening hati MQ 102,7 FM/ melangkah dengan semangat baru dan karya nyata/ bersama saya sahabat siar Herry Fahrur Rizal//

Saya perhatikan kembali script opening yang baru saja ditulis.

Kang Nugie Al-Afgani (salah satu Penyiar Senior yang ketika itu sekaligus menjabat sebagai Program Director MQFM) mengajarkan kami untuk mengganti tanda baca “koma” dengan garis miring satu (“/”) dan tanda baca “titik” dengan garis miring dua (“//”).

Saya melanjutkan penulisan script tadi di Ruang Koordinasi studio MQ FM tersebut:

Sahabat MQ/ “Nuansa Malam” hari ini/ kita akan berbincang tentang “Dosa yang Berulang”// Semoga “Nuansa Malam” dapat membantu Sahabat merenungi arti hidup ini// Sahabat MQ juga dapat berbagi pengalaman di 201-70-76 atau di line SMS 08552-10-2650// Perlu Sahabat ketahui juga bahwa line SMS kami tidak dapat digunakan untuk menelepon//

Sesaat saya terhenti. Mata saya menyapu para Finalis lain yang menekuri draft script-nya masing-masing.

Sigit bersedekap, mencoba menghalau dinginnya ruangan koordinasi yang dingin. Kang Kikim merapatkan jaketnya mengingat AC dan cuaca musim hujan yang menusuk di Bandung. Jati membetulkan posisi kacamatanya yang melorot.

deden-2-thumb

Almarhum dikenal ramah dan bersahaja

Dewi sesekali merapihkan manset yang menutupi lengan bergamisnya nan lebar. Nuni yang berkerudung putih panjang nampak serius menyusun script-nya sendiri. Sementara Deden… ah, air muka tenangnya menginspirasi saya untuk melanjutkan penulisan script, ketika tiba-tiba lagunyanya Berubah terngiang di kepala….

Sahabat MQ/ kendati melakukan dosa merupakan hal manusiawi/ namun itu bukan pembenaran untuk kelalaian kita dalam berbuat dosa yang berulang// Apalagi Sahabat MQ/ jika dosa dimaknai dengan luka// Bukankah betapa banyak orang yang terluka tapi tidak merasa dilukai?// Itulah Sahabat MQ/ orang-orang yang telah mati rasa terhadap dosa// Semoga Sahabat MQ/ nasyid Edcoustic berjudul “Berubah” ini dapat mengingatkan kita semua///

Baca Juga: [REPOST] Aku Ingin Menjadi Tujuh Langkah Terakhirmu...


Sejujurnya, saya tidak begitu dekat dan akrab dengan Deden. Selama “karantina”, justru malah Sigit yang sering terlihat jalan berdua dengan Deden saat break siang menuju mesjid Daarut Tauhiid (DT) untuk sholat Dzuhur.

deden-3-thumb

Sigit, berkemeja kotak-kotak

Sekalipun memang pada suatu kesempatan, setelah siaran hingga larut malam, Deden pernah menginap di kos saya yang bertempat di Cipaku II, Ledeng.

Karena tidak membawa baju ganti, saya juga sempat meminjamkan T-Shirt Dagadu yang dimiliki. Mengobrol ringan tentang kehidupan pribadi masing-masing.

Keesokan paginya sarapan bersama dengan Nasi Kuning di sekitaran Kos. Selesai. Hanya sebatas itu. Tidak lebih.

Bahkan obrolan terakhir saya dengan Deden terjadi 27 Maret 2013 silam, setelah saya hijrah ke Jakarta karena diterima di ESQ Leadership Center sebagai Asisten Trainer, enam tahun lalu pada tahun 2007.

Berikut petikan obrolan kami di Path tersebut:

deden-4-thumb

Sebelumnya sekitar tahun 2009, saya juga sempat komunikasi dengan Deden via SMS, sekedar mengucapkan selamat karena lagunya Ketika Cinta Bertasbih terpilih menjadi OST (original soundtrack) film religi dengan judul sama yang dibawakan Melly Goeslaw.

deden-5-thumb

Apalagi dalam kehidupan nyata sehari-hari, kami semua mengerti betapa Eggie merupakan soulmate-nya Deden yang tidak tergeserkan.

Sebagai Duo akustik yang dikenal dengan nama “Edcoustic”, pasangan Deden-Eggie memang memiliki chemistry kuat yang sanggup membuat cemburu para penganut paham “Bromance” (baca: Ukhuwwah Islamiyyah).

“Bromance” sendiri merupakan terminologi yang dipopulerkan CNN, untuk merujuk kepada “kemesraan” relationship non-seksual antar sesama dua orang pria heteroseksual.

Jika di industri entertainment Hollywood terdapat George Clooney dan Brad Pitt yang popular disebut dengan “Raja-Raja Bromance”; maka di industri entertainment (karena “Edcoustic” tergolong nasyid yang praktis membawakan lagu-lagu religi, konon istilah “entertainment” diplesetkan menjadi “dakwah-tainment”) Indonesia, salah satunya terdapat pasangan: Deden-Eggie….

deden-thumb

Saya di antara Deden dan Eggie (2005)


EPILOG

Berubahkah aku
Hanya bila ada sesuatu
Terus aku pulang
Pada sikap sebelum kuberubah

Hanya sekedar sesuatu
Tak berapa lama pun itu
Jarang kuterendap
Dalam sikap
Dimana kuberubah

Reff:

Tuhan…
Aku hanya manusia
Mudah berubah
Lagi dalam sekejap

Tuhan…
Aku ingin berubah
Dan kubertahan
Dalam perubahanku

Sebulir hangat meleler di pipi saya setelah menyaksikan video Berubah-nya Deden di YouTube.

Apalagi setelah diri tersambar petir kenyataan bahwa di penghujung Desember 2013 silam, sebuah mendung menggelayut mengarak awan kabar; tentang Deden yang dijemput Malaikat Izrail, mengakhiri amanahnya sebagai hamba….

SEKIAN

*P.S. Tulisan ini pernah saya posting di blog yang lama pada tanggal 5 Januari 2014. Tulisan ini diposting kembali untuk mengenang Deden “Edcoustic” yang hari ini merupakan hari kelahirannya.


Image Source: Personal Collection.

Herry Fahrur Rizal
Herry Fahrur Rizal
A Startup Enthusiast who has 5 years experience in Indonesia startup ecosystem | Follow me on Facebook: Herry Fahrur Rizal